LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Senin, 17 April 2017

Surat Cinta Untuk Kartini; Film Fiksi yang Dijejali Eksekusi

Film Surat Cinta Untuk Kartini menjadi kisah fiksi yang diadaptasi dari sejarah. Ada pelepasan diri dari tradisi dan adat istiadat. Ada perjuangan terhadap kelas sosial. Namun, semua itu dijejali dengan eksekusi yang basa-basi.

Keputusan kreatif yang dibuat oleh rumah produksi MNC Picture untuk film Surat Cinta Untuk Kartini menjadi pertanyaan dari awal bagi ogut. Apakah mereka akan membawa pada penceritaan sejarah atau penceritaan fiksi?. Ogut bisa menjawab bahwa penceritaan mereka terbawa ke arah fiksi sehingga kemasan begitu ringan untuk dicerna.

Penggunaan framing device di film ini berfungsi sebagai setup yang menggiring perspektif penonton bahwa kisah yang diceritakan adalah fiktif. Hanya saja apakah tepat guna bila menceritakan sebuah kisah romansa pelik orang dewasa seperti di film ini kepada siswa taman kanak-kanak?



Seperti yang ogut sudah review dipostingan sebelumnya bahwa film ini memiliki alur mundur kebelakang yang gampang dipahami. Namun, penonton hanya disuguhkan kilas balik narasi fiktif yang cepat beranjak. Seperti cerita seorang guru kepada murid-muridnya dengan kisah yang banyak ada di buku sejarah. Its freak development story*.

Kisah Sarwadi sendiri merupakan rekaan dan menempel pada kisah asli R.A. Kartini yang dituturkan melalui sosok sang pengantar surat tersebut. Sebuah sudut pandang yang cukup menarik memang namun plot seharusnya mampu menampilkan sosok Kartini dengan kuat sebagai tokoh perjuangan pendidikan yang patut kita kenang. 

Tidak banyak adegan maupun dialog yang membuat penonton dapat mengagumi sosok Kartini. Apakah perjuangan sosok pahlawan di negeri ini hanya seperti ini saja? Seolah tidak ada usaha yang keras dari Kartini untuk mengubah situasi.

Menurut ogut, sosok Kartini sebagai pahlawan nasional yang memperjuangkan hak perempuan Jawa tidak ditampilkan kuat dalam film ini. Usaha pembuat film untuk mengangkat kisah pahlawan perempuan ini patut kita hargai namun Surat Cinta untuk Kartini seharusnya mampu menggambarkan sosok sang putri untuk bisa kembali diingat dan diteladani generasi muda masa kini.

Ogut harus bilang bahwa ini film sejarah yang mengejutkan. Ogut melihat bagaimana cara mengemas film ini yang biasa saja. Ogut kira penonton akan dibawa ke era dimana R.A Kartini berada. Ternyata tidak seperti yang dibayangkan tadi.

Di sepanjang film, Kartini coba digambarkan sebagai penjunjung kesetaraan. “Panggil aku dengan Kartini saja” begitu pintanya agar lawan bicaranya menanggalkan atribut kebangsawanan. Tetapi di lain adegan yang berada di luar wilayah keraton, Kartini duduk di atas ayunan, sedangkan para dayangnya duduk lesehan di bawah.

Sebuah penggambaran yang kontradiktif dari apa yang digembar-gemborkan. Untuk sebuah film yang menyinggung soal kesetaraan, film ini terlihat masih pro pria dan masih memandang wanita sebagai makhluk yang layak diselamatkan. 

Banyak tokoh wanita yang hanya berdiri saja untuk terlihat manis. Kedua adik Kartini bahkan tidak mendapat penggalan dialog yang berarti. Adik-adik Kartini itu tampil nyaris tanpa dialog sehingga hanya ikut kesana kemari bak dayang-dayang yang menemani sang putri tanpa ada penokohan kuat.

Untuk konteks nyata serasa sangat sulit membayangkan Kartini yang ningrat dengan adat feodal yang ketat saat itu bisa bertemu dengan mudah dengan orang-orang biasa. Film ini pun seolah begitu cair, Sarwadi bisa masuk ke dalam kehidupan Kartini tanpa bersusah payah menembus ’birokrasi’ setingkat bupati yang pada zaman kolonialisme begitu ketat peraturannya.

Semua itu berdasarkan pola yang sudah diadopsi berbagai film romansa berlatar periodik, yang mengerucutkan pada suatu pertanyaan, “Bagaimana mungkin dua manusia dengan strata bertolak belakang sering melakukan pertemuan intens, tanpa memicu pergunjingan masyarakat di era itu?”. Penentangan yang terjadi hanya ada ditingkatan secondary characters, lewat tokoh Mujur dan mbok-mbok abdi dalem yang semuanya berfungsi sebagai comic relief.

Padahal, sosok tiga gadis Belanda di awal cerita rasanya bisa menampilkan konflik lebih menarik namun penonton tidak pernah melihat mereka lagi. Beberapa karakter lain tidak ditampilkan dengan porsi yang cukup sehingga terlihat sekedar karakter tempelan. Sebagai contoh, karakter Yu (ibu kandung dari Kartini). Jika karakter ini ditampilkan lebih kuat dengan adegan dan dialog yang lebih baik, maka pesan dan kesan seorang ibu yang berpengaruh pada sosok putrinya akan menjadi lebih bermanfaat. Justru karakter sahabat Wadi, yang bernama Mujur dan diperankan Ence Bagus memberi sentuhan komedi yang cukup menghidupkan film namun karakter ini pun hanya terlihat diseparuh awal.

Film Surat Cinta Untuk Kartini coba berusaha menggambarkan sisi humanisme Kartini dan tukang pos yang bisa berinteraksi secara intens. Kartini ditampilkan dalam penokohan wajah yang lebih membumi di film ini, seolah garis feodalisme ternafikan.

Kepentingan nilai historis pun tampak berkurang. Penonton hanya bisa apresiasi sampai pada kesimpulan di depan wanita yang kuat masih ada pria kuat yang mempercayainya. Padahal ogut menunggu kisah familiar tentang sosok Kartini yang membela hak-hak kaum perempuan terutama dalam bidang pendidikan, tapi sepertinya kalah dengan adegan dimabuk asmaranya Sarwadi.

Sebagai sebuah period piece, visual film ini direncanakan cukup matang. Banyak benda di luar zona waktu terkini berseliweran, memperkuat kesan tahun 1903an. Tata artistik pun dibuat asyik dengan pemandangan indah nan unik. Namun, ada hal yang menganggu saat setting pantai selatan (pantai wisata Goa Cemara) yang berbukit juga tampak tidak sesuai dengan kondisi geologis pantai utara sehingga tampak tidak real untuk lokasi kisahnya.

Tata kamera dari Muhammad Firdaus pun hanya memenuhi fungsi estetika, menangkap landscape dan pemandangan indah saja demi meningkatkan production value. Memang hal itu berhasil menghadirkan nuansa romansa. Gambarnya terang, tajam, dan menarik. Tetapi, kamera Firdaus gagal dalam menyajikan kedalaman cerita hingga menangkap detail emosi yang menggugah jiwa.

Overall, Surat Cinta Untuk Kartini gagal juga memenuhi fungsi edukasi. Dibangun di atas premis menarik, namun berujung pada eksekusi generik. Dengan pendekatan fiktif, sineas hanya bisa berkilah, toh semua hanyalah cerita fiksi !.

Sebenarnya, Ogut sebagai penonton tidak masalah dengan pendekatan fiksi saja selama durasi film. Namun, sebuah film dengan pendekatan fiksi mesti menjalankan fungsinya membangun dunia dan logika yang meyakinkan. Seharusnya tetap ada kedalaman informasi tentang sosok Kartini yang bisa penonton dapatkan. 

Karakter fiksi yang disempilkan hendaknya mampu “mengorek” sebuah gagasan dan pemahaman baru tentang Kartini yang tidak kita ketahui dari laman mesin pencari Google dan buku-buku sejarah, tanpa menjadi upaya domestikasi karakter yang memiliki gagasan dan ambisi besar. Jangan hanya terlihat stuck bahwa film ini lantas menyibukkan pada premisnya sendiri dan berakhir pada sebuah kisah klise pupusnya asmara hingga Surat Cinta Untuk Kartini memiliki makna begitu sempit.

Kehadiran konflik hanya bisa kita mengerti seperti menonton drama percintaan. Hal ini disebabkan terlalu banyak sentuhan genre drama romansa. Ekspetasiku pun mulai tinggi karena tak ada alasan sinematis yang etis. Kecenderungan untuk melakukan hal keharusan pun terlihat diberbagai pengadeganan lain pada film ini. Adegan romantis di pasar tradisional, adegan mengajar di alam terbuka; semua bagai keharusan

Jatuh cinta Sarwadi dibuat mabuk kepayang karena hanya melihat Kartini dari tampilan fisik semata. Pendekatan diambil dari point of view pria berlatar rakyat jelata yang jatuh cinta kepada wanita bangsawan. Polarisasi karakter yang jamak pun tercipta. Sarwadi rakyat jelata, sedangkan Kartini berdarah biru; Sarwadi hanyalah tukang pos berpengetahuan ala kadarnya, sedangkan Kartini adalah perempuan dengan cakrawala berpikir yang pernah mencicipi sebagai kaum terpelajar; Sarwadi, duda tanpa pengharapan masa depan, lalu Kartini, salah satu bunga harum semerbak yang jadi idaman.

Dialog yang tercipta antara Sarwadi dan Kartini terlontar lewat pertemuan keduanya, yang dieksekusi sebagai pendekatan seorang jejaka terhadap gadis pujaannya. Dialog-dialog pun terjadi secara sepihak, karena Sarwadi tidaklah mampu mengimbangi intelektualitas Kartini. Gagasan Kartini pun lantas hanya lahir dari retorika semata, tanpa lewat tindakan bahkan gesture yang menginspirasi.

Sepertinya penulis naskah yang bernama Vera Varidia mencari berbagai informasi trivia tentang Kartini melalui mesin pencari Google dan kemudian memasukkannya ke dialog dan adegan. Tanpa kedalaman intrepretasi dialog, semua hanya menjadi serangkaian platitude yang kurang ciamik.

Sarwadi lantas seperti hidup dalam ilusi angan-angan. Meski sering diingatkan oleh secondary characters di film ini agar ia kembali memijak bumi. Sarwadi kukuh dalam pendirian. Penonton pun diberitahu Kartini terkenal karena ke’aneh’annya, literally tokoh sahabat Sarwadi bernama Mujur bilang demikian. Namun, kita enggak pernah benar-benar melihatnya. Penonton tidak cukup diberi bukti seperti apa sih Kartini yang kuat itu? Penonton hanya diperlihatkan Kartini secara personal justru saat dia dicap tidak mau membela hal-hal yang sudah diperjuangkan oleh Sarwadi.

Penonton diajak melihat Kartini dari sudut pandang Sarwadi. Orangnya cantik, misterius, rebellious, dan tidak sombong. Film alternate history dengan lihai memasukkan data historis sebagai penunjang cerita. Shot Kartini sedang menulis “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjelang akhir film cukup fenomenal.

As for the performances, Rania Putrisari berhasil merefleksikan segala pesona dan thread Kartini dalam debutnya ini. Kartini versi Rania punya senyum tiga jari yang bukan hanya menangkap hati Sarwadi, tapi juga hati para penonton. Secara fisik mendukung, namun jiwa Rania Putri rasanya belum mampu memerankan seorang perempuan Jawa yang lembut dan tangguh. Justru Acha Septriasa yang hanya tampil sebagai cameo di akhir kisahnya banyak yang memprediksi mampu memerankan sosok Kartini lebih baik. 

Rania memang bukan aktris ternama pada umumnya bahkan ia belum pernah bermain di layar lebar seperti film ini. Ia merupakan aktris pendatang baru dari hasil seleksi khusus (casting) untuk mencari karakter kartini yang membutuhkan waktu selama 6 bulan lamanya. Seorang model asal surabaya yang berparas cantik nan mungil ini berhasil terpilih karena mungkin keanggunan fisiknya bisa merepresentasi seorang kartini.
 
Peran utama pria dalam film ini yaitu Sarwadi yang dimainkan oleh Chicco Jerikho. Sebagai peran utama, karakter ini punya wide array of emotions karena terkesan lebih mendominasi dibanding Kartini. Aktor sekelas Chicco Jerikho memang berhasil bermain didalamnya dan menjadi (pitching point). 

Namun, tak mampu diimbangi dengan aktor berpengalaman seperti Donny Damara yang menjadi bupati Jepara R.M Adipati Ario Sosroningrat atau ayah dari Kartini. Penampilannya dalam film ini terkesan kurang berwibawa dan memang kurang pas memerankan seorang raja.

Penggunaan bahasa dan logat Jawa pun tidak mampu dilafalkan baik oleh para pemeran. Namun sepertinya bukan masalah untuk kebanyakan penonton.

Ogut cukup terkesima dengan peran Ningrum yang dimainkan Christabelle Grace Marbun dengan akting yang mengejutkan. Selain itu, Ence Bagus juga bermain gurih-gurih enyoy dengan selera humor konyol yang cukup mencuri perhatian.

 

Dibalik itu semua, tema cerita memang dibuat terlalu beragam dengan bumbu-bumbu yang menjadi satu ramuan. Ada kisah tukang pos dan anaknya yang mencoba mengungkap makna cinta kasih orang tua. Ada kisah sahabat tukang pos yang berhasil menikah dengan wanita pujaan. Jadi, esensi dari Kartini itu sendiri tidak tergarap secara bersinergi.

Mungkin hal-hal di atas menjadi sebab film Surat Cinta Untuk Kartini tak memiliki suatu rangkaian adegan utuh. Tak ada unsur sinematografi yang meyakinkan kita untuk tetap stay mengikuti jalan cerita hingga akhir. Entah sang sutradara yang masih bingung ingin membawa filmnya kemana atau memang film ini dibuat sengaja untuk memainkan emosi penonton sesaat saja. 

Cerita pun hanya menjadi sekumpulan keping-keping informasi yang sekadar ditempelkan menjadi satu fiksi. Film cinta ini pun berakhir dieksekusi seperti itu saja.

*Blogger Eksis gives 6 gold stars out of 10*

Kritik film ini telah dikumpulkan dari berbagai sumber dan didraft dari tahun kemarin tepat bulan April 2016. Namun, karena kesibukan penulis baru bisa diselesaikan tahun ini.

2 komentar:

  1. mantap gan penjelasan kritiknya ... kunjungi jugga blog saya masyis.com blog Ngapak

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas Blog Walkingnya Blogger Ngapak.

    Laman situ juga keren membahas tentang blogger dari berbagai versi. Lanjutkan!

    BalasHapus