LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Sabtu, 15 April 2017

Indonesia Movie Review: Surat Cinta Untuk Kartini



R.A.Kartini adalah sosok ikonik dari kalangan priyayi yang melambangkan perjuangan wanita Indonesia. Kita semua tahu nyata sejarahnya. Bagaimana Ibu Kartini memperjuangkan kesetaraan perlakuan dan derajat kaum wanita ditengah zaman penjajahan. Bagaimana Ibu Kartini mendirikan sekolah untuk anak-anak pribumi sehingga mereka bisa mengenyam pendidikan. Semua ada di buku. Yang kita enggak tahu adalah seperti apa sih pribadi seorang Kartini. Dilihat dari foto, sepertinya beliau orang yang pendiam dan thoughtful

Alhamdulillah Ogut dapat tiket gratis lagi setelah ikutan kuis di akun twitter @BrandOutlet_ID yang juga menjadi salah satu brand clothing online shop di bawah naungan MNC Group. Kali ini ogut pun nonton film Surat Cinta Untuk Kartini pada Senin, 11 April 2016 tepatnya di Blok M Square saat ada meet n greet dengan sutradara (Azhar Kinoi Lubis), Sarwadi (Chicco Jerikho), dan Ningrum (Christabelle Grace Marbun). Ogut gak sabar mau lihat Kartini nya divisualisasikan dalam versi seperti apa. So, I was excited going into this movie.
 
Opening scene Surat Cinta Untuk Kartini dimulai dari sebuah taman kanak-kanak di dunia modern. Seorang guru perempuan dalam kostum kebaya mengajak murid-murid TK untuk menyimak ceritanya tentang Kartini. Anak didiknya ini enggan untuk menurut. Mereka protes dengan mengemukakan alasan logis, “Ngapain sih cerita tentang Ibu Kartini? Di buku-buku sejarah juga banyak!.”

Gagal menarik minat para siswa, upaya sang guru perempuan diselamatkan oleh sosok (yang diasumsikan sebagai salah satu pengajar di taman kanak-kanak itu), muncullah Chicco Jerikho dalam balutan busana modern. Lalu, Ia memutuskan untuk bercerita mengenai Kartini melalui sudut pandang tukang pos. Anak-anak tersebut pun langsung mendengarkan dengan seksama.

Maka dimulailah cerita pak guru, yang dalam film ini berfungsi sebagai flashback framing device. It was playful. Jarang sih film Indonesia mengambil langkah baru seperti ini hingga menghadirkan konsep emosional nan menyentuh. Seolah memberi warna baru dalam penceritaan sejarah. At times film ini cukup menarik untuk disimak sebagai a vibrant of characters.
 
Ternyata, Surat Cinta Untuk Kartini dibuat dari sudut pandang tokoh bebas! Tokoh utamanya yaitu seorang tukang pos di Jepara, bernama Sarwadi, berstatus sebagai duda beranak satu yang menjadi begitu tertarik dengan sosok Kartini setelah suatu hari ia mengantar surat-surat ke kediaman putri ningrat Jepara itu. 

Film ini membawa rasa penasaran penonton sebagai seorang Sarwadi yang mendadak kagum terhadap sosok Kartini sejak pandangan pertama. Hingga akhirnya, Sarwadi membawa Ningrum, putrinya yang berumur 7 tahun untuk belajar kepada Kartini. Sarwadi berhasil menjadi ‘twist’ sejarah tentang Kartini.

Beberapa kali Sarwadi ingin memberi surat cinta kepada Kartini tapi gagal. Hatinya pun hancur ketika mendengar Kartini dilamar oleh Bupati Rembang yang sudah memiliki 3 istri. Dia sempat jatuh sakit tapi akhirnya bangkit lagi. Dia pun melakukan berbagai cara untuk meyakinkan Kartini agar tidak menikah dan tidak melupakan mimpinya untuk mendidik kaum perempuan.

Premis cerita menarik dengan konsep struktur yang begitu tinggi. Kisah cinta rekaan antara Sarwadi dan Kartini mencoba menyentuh kita lewat perbedaan keadaan hidup yang mereka hadapi saat itu. Bagai punuk merindukan bulan. Formula Sarwadi terbukti ampuh sebagai emotional core dari cerita.
 
Inti yang bisa penonton dapatkan yaitu ada keinginan Kartini untuk membuat sekolah dan keinginan Sarwadi mencari ibu bagi Ningrum. Kartini sempat curhat dia ingin mengajar tapi tidak punya tempat, lalu semua masalah hilang berkat pilihan-pilihan Sarwadi yang jadi pusat cerita. Tantangan demi tantangan pun mereka hadapi, they were personal. Eksekusi terhadap cerita dibuat sedemikian rupa hingga penonton menjadi peduli.

Penceritaan siapa Kartini dalam film ini lebih terlihat tentang bagaimana ide dari seorang Kartini mempengaruhi banyak orang. Bagaimana orang jatuh cinta kepadanya. Bagaimana orang-orang disekitar menjadikan beliau inspirasi. 

Ada satu adegan yang cukup menarik perhatian, saat Kartini menyuruh ibunya yang bernama Ngasirah (Ayu Dyah Pasha) untuk duduk sejajar dengan dirinya dan juga ibu tiri kartini yang menjadi istri utama bupati Jepara. Kartini pun menginginkan panggilan Ibu untuk wanita yang melahirkannya, bukan sebutan lain meski Ngasirah bukanlah istri utama bupati. Kartini tetap meyakini bahwa Ngasirah merupakan ibu kandungnya dan Ia mengajukan permintaan kepada romonya agar Ngasirah berhak mendapat kamar yang lebih layak.

UNPUBLISHED
Selain itu, adegan ikonik yang menurut penulis berkesan saat Kartini berbicara dengan Sarwadi di sebuah tepi sungai di mana ia dan kedua adiknya melakukan pengajaran kepada anak-anak pribumi. Kalimat ikonik yang masih teringat yaitu kutipan pembicaraan yang berbunyi “Kita tidak bisa mengubah asal kita, tapi kita bisa mengubah cara berpikir kita” ujar Kartini kepada Sarwadi.

Pada akhirnya, R.A Kartini pun meninggal dan si tukang pos tetap melanjutkan kehidupan bersama putrinya yang sudah berdandan ala kartini. Tiba-tiba tampil sosok cameo Acha Septriasa dalam tata rias modern mengenakan kebaya tampak mengajar di tepi pantai seolah meneruskan tradisi Kartini. Ini menjadi simbol kebanggaan sosok kartini-kartini selanjutnya.

Di akhir film, penonton juga sempat digoda oleh sebuah petunjuk kecil dari buku sketsa yang dibawa oleh karakter guru yang diperankan oleh Chicco Jerikho. Mungkin saja adegan ini dimaksudkan ingin menimbulkan teori atau perdebatan, apakah Sarwadi hanyalah rekaan sang guru ataukah memang “kisah nyata” yang tidak termaktub dalam sejarah. Hal ini coba disampaikan secara blak-blakan di akhir film sehingga memberi isyarat untuk penonton bertanya-tanya?!?!??!. 😌😤😱😱🙎


PS: Review ini telah didraft dari tahun kemarin tepat bulan April 2016 karena kesibukan penulis baru bisa diselesaikan tahun 2017 ini. Untuk kritik film ini bisa dilihat tulisan selanjutnya. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar