LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Rabu, 15 Maret 2017

Film Salawaku: Mengenal Lebih Dalam Maluku



       Menjelang Hari Film Nasional 2017, kebangkitan perfilman Indonesia tumbuh subur. Sineas lokal mulai membuat film dengan variasi genre yang berbeda. Menurutku, jika cerita dalam film tersebut mampu menyentuh secara personal, film itu akan menjadi bagus. Karya yang baik selama ini ialah film tentang manusia, tentang apa yang dirasakannya, karakter, kepedulian, dan juga identifikasi seseorang pada kehidupannya.


       Salah satu film Indonesia yang memiliki cerita menyentuh tersebut yaitu Film Salawaku yang diproduksi oleh Kamala Films. Tidak hanya alur cerita yang mengalir, tata artistik dan tata kamera pun menyajikan pesona kearifan lokal Indonesia yang begitu mendalam. Cerita mengikat dan memberi kesan yang kuat.
      Adegan awal luar biasa dibuka dengan langit gelap tampak seorang perempuan dengan isak tangis tergesa-gesa berada di sampan kayu melakukan perjalanan seorang diri tanpa arah pasti. Lautan luas nan biru menjadi saksi perjuangan seorang diri mengarungi bahtera kehidupan yang harus dilalui.

       Salawaku (diperankan oleh Elko Kastanya) seorang pelajar Sekolah Dasar (SD) yang lugu, naif, dan bijaksana mulai merasa sepi dan sendiri. Sejak orangtuanya meninggal, Ia hanya memiliki kakak perempuan bernama Binaiya (diperankan oleh Raihaanun) yang tiba-tiba kabur dari pemukiman adat. Salawaku pun melakukan perjalanan mencari kakak kesayangan dengan menggunakan sampan yang dicuri dari pemuka adat. 

       Di tengah perjalanan, Ia bertemu Saras, (diperankan oleh Karina Salim). Saras sedang tersesat di salah satu pulau. Perjumpaan mereka yang tampak disengaja dan klise agak sedikit mengganggu. Adegan tersebut dipaksakan begitu saja untuk menghidupkan cerita. Namun, perjalanan mereka berlanjut menjadi petualangan seru untuk mencari kepastian dalam kehidupan yang tak menentu.
      Perbedaan bahasa yang digunakan antara bahasa daerah dan bahasa gaul menjadi daya tarik dialog selama perjalanan mereka dalam film ini. Penggunaan bahasa daerah ‘seng’ yang artinya tidak atau penggunaan istilah gaul ‘gokil’ dan ‘gagal paham’ membuat cerita ini tidak begitu kaku.

     Tidak hanya disuguhi panorama kekayaan alam Indonesia bagian timur, penonton dibawa lebih dekat mengenal karakter orang Maluku beretnis Ambon yang sering dijuluki Labu Jua Ada Hati, artinya “Sekeras-kerasnya watak orang Ambon, hati tetap lembut… .”

      Perjalanan Salawaku dan Saras pun berlanjut menuju Piru, ibukota Seram Barat tempat Binaiya bekerja. Perjalanan ini dilengkapi dengan pacar dari Binaiya, bernama Kawanua (diperankan oleh Jflow Matulessy) yang bertemu Salawaku di tengah perjalanan. Kawanua khawatir terhadap menghilangnya Salawaku yang sudah dianggap adiknya sendiri. Ia pun berjanji akan mengantarkan Salawaku hingga akhir tujuan bertemu dengan Binaiya.
     Namun, Kawanua pun berubah pikiran untuk membawa Salawaku ke pemukiman asal. Kawanua belum siap mempertanggungjawabkan perbuatannya jika bertemu dengan Binaiya. Salawaku pun merajuk. Saras yang bersifat netral, mencoba mendamaikan suasana. Mereka pun memutuskan untuk tetap menemui Binaiya agar semua bisa terlihat bahagia.

   Pemeranan dalam film ini tidak begitu banyak. Masing-masing karakter saling menguatkan satu sama lain sehingga membentuk benang merah film yang mudah dimengerti dan membuat penonton seolah menjawab teka-teki. Kecemasan yang dialami oleh masing-masing karakter menjadi kata kunci untuk menjawab kehidupan tentang kisah meninggalkan dan ditinggalkan.
     Tiga dari empat sosok yang menguasai cerita memiliki penampilan fisik khas  Indonesia Timur. Elko Kastanya, Raihaanun, dan JFlows Matulessy dengan rambut keritingnya mampu mewakili wajah-wajah keturunan Ambon. Naturalitas aktingnya juga mengantarkan Elko Kastanya sebagai pemeran anak terbaik dalam Festival Film Indonesia 2016 dan Raihaanun sebagai pemeran pembantu wanita terbaik FFI 2016.
    Bertolak belakang dari mereka, ada sosok Saras dengan karakter generasi milenial ibukota yang terkoneksi dengan smartphone berteknologi internet. Hanya saja, kontinuitas make up, busana, dan properti kurang digarap lebih dalam sehingga kurang mendukung saat berakting dihadapan kamera. Meski demikian, Karina Salim tampil gemilang dan akan menjadi aktris pendatang baru yang cukup diperhitungkan dalam kancah perfilman nasional. Bakat menyanyinya ditunjukkan dalam film ini dengan lagu imaji sunyi yang menambah syahdu suasana dalam setiap adegan yang ada.
  
     Bagaimana nilai moral dan tanggung jawab menjadi urusan belakangan karena lebih takut dengan hukum adat. Apalagi hukum yang dihadapi dari orangtua kita sendiri yang juga merupakan sosok kepala suku atau orang yang dituakan.
   Sebagai seorang lelaki, Kawanua mengalami pergulatan konflik batin karena mengabaikan sikap tanggung jawabnya. Kecemasan sikap timbul karena Ia sebagai seorang anak kepala adat harus menanggung malu pada harga diri orangtuanya yang memiliki jabatan pada adat istiadat. Bahkan, Ia pun belum siap untuk diusir dari kampungnya akibat ulahnya dengan Binaiya yang menyalahi norma adat istiadat.
       Di sisi lain, Sosok Saras juga diceritakan lari dari kenyataan karena telah menggugurkan kandungannya sebagai akibat dari ulah kekasihnya yang juga tak mau bertanggung jawab. Semua beralasan belum siap menerima kenyataan, padahal mereka sendiri yang berbuat. Tak peduli reputasi dan citra diri, apapun tersaji dan akan terhakimi di kemudian hari.

        Film ini memberi filosofi tentang perjalanan hidup. Aku pun terkesima dengan adegan flashback yang begitu sempurna dan beda dari film-film lainnya. Sutradara, Pritagita Arianegara menggarapnya dengan narasi dialog yang berisi. Aku begitu menikmati film ini dari awal dengan interaksi yang menghasilkan relasi-relasi penuh makna.
      Cinta itu Beban. bicara tentang problema hamil di luar nikah yang menjadi tema menyentuh kalbu setiap penonton. Film ini mengemas tanpa harus mengungkap kesedihan yang berulang. Semua masalah hadir bukan untuk dijadikan beban, melainkan dicari solusi kepastian. 
 
     Kepulauan Seram yang berada di Maluku, bagian Indonesia timur tersajikan begitu menawan. Pesisir pantai, laut, dan diorama bawah laut tersaji begitu halus mengisi rangkaian gambar-gambar bergerak sepanjang film. Wajar saja jika Faozan Rizal mendapat piala citra untuk pengarah sinematografi terbaik tahun 2016 silam.
     Film Salawaku juga mengajak penonton melihat kuliner yang begitu menggoda dari wilayah Timur sana. Ada Sopi (minuman khas Maluku yang mengandung alkohol). Penonton juga akan mengenal Papeda (makanan unik khas Maluku yang terbuat dari tepung sagu). Semua unsur kekayaan Maluku ditampilkan begitu pas mengisi rangkaian dialog dalam adegan yang tetap mengalir.
 
      Untung saja film Salawaku yang juga meraih Piala Dewantara kategori Film Cerita Panjang Bioskop dalam Apresiasi Film Indonesia 2016 tidak ada iklan yang sering kali bermunculan dalam film dengan orientasi komersil. Film Salawaku mampu membuat promosi Indonesia secara cerdas karena tidak sedang berjualan produk. 
    Bagiku, film Salawaku bercerita tentang mempromosikan Indonesia. Aku bisa mengatakan kepada kalian yang belum nonton 'Lihatlah film ini yang diproduksi di Indonesia dan lihatlah apa makna yang terkandung didalamnya, lihatlah talenta apa yang dimiliki, dan lihatlah bagaimana Indonesia memiliki potensi pariwisata yang hebat'. Aku bangga menonton film Indonesia ini. #ApresiasiFilmIndonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar