LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Kamis, 16 Februari 2017

Humanisme dalam Bahasa Audio Visual



Pada hari Jum’at, tanggal 20 Januari 2017 lalu, aku menghadiri Malam Anugerah Festival Film Pendek Indonesia (FFPI) 2016 di Bentara Budaya, Jakarta Barat. Dengan tema humanisme, seluruh peserta sudah mencapai babak final dengan karya film pendek masing-masing. Tema humanisme dipilih karena selama ini banyak orang yang mengetahui tentang arti dari humanisme tersebut, namun sulit divisualkan secara konkret. Dari semua karya yang masuk, semua sineas muda Indonesia pun berupaya menciptakan film yang menonjolkan kualitas dengan muatan kearifan lokal daerah masing-masing.
Kompas TV menjadi pihak yang konsisten untuk memberikan apresiasi terhadap karya kreatif melalui penyelenggaraan kompetisi film pendek ini. Semangat pelajar dan mahasiswa yang menggebu terhadap event tahunan ini membuat kegiatan telah diselenggarakan untuk ketiga kalinya. Antusiasme para pelajar dan mahasiswa pun semakin tinggi untuk tahun ini. Perkembangan komunitas film diberbagai daerah melatarbelakangi Kompas TV yang menjadi bagian dari keluarga Kompas Gramedia Group untuk memberi ruang pergerakan karya di daerah dalam festival bertaraf nasional ini.
Selama masa pendaftaran kompetisi, Kompas TV juga telah mengadakan workshop film pendek di 10 kota pada tanggal 17 Mei – 28 Oktober 2016. Kota tempat diselenggarakan workshop film yaitu Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Tangerang, Pekalongan, Yogyakarta, Denpasar, Banjarmasin, dan Gorontalo. Setelah itu proses seleksi pun berlangsung ketat hingga tersisa 10 besar film pendek dari 276 film yang masuk untuk kategori pelajar dan mahasiswa. Selanjutnya, film pendek tersebut dipilih lagi menjadi lima besar untuk kategori pelajar dan mahasiswa masing-masing. Jenis film yang dilombakan tidak terbatas. Ada film fiksi, dokumenter, sampai animasi. Seluruh peserta bebas eksplorasi.
Ifa Isfansyah selaku dewan juri sedang menjawab pertanyaan dari penonton

Dewan juri kompetisi ini terdiri dari Ifa Isfansyah yang telah menghasilkan film layar lebar seperti "Sang Penari", "Garuda Di Dadaku", dan "Pendekar Tongkas Emas". Ada Makbul Mubarak, seorang akademisi, kritikus film, dan pembuat film yang mana karya film pendek “Sugih” meraih Film Pendek Terbaik di XXI Short Film Festival 2016. Ada Frans Sartono yang merupakan wartawan senior Harian Kompas dan General Manager Bentara Budaya. Terakhir, ada Deddy Risnanto yang merupakan perwakilan dari Kompas TV. Dewan juri melakukan penilaian tidak hanya diukur secara teknis, diprioritaskan juga yang paling unggul dari sisi tema humanisme.
          Setelah menonton semua tayangan karya finalis, aku pun sudah memiliki jagoan dan tebakan ku pun begitu tepat. Dalam sinematografi, unsur visual merupakan “alat” utama dalam berkomunikasi. Maka secara konkrit bahasa yang digunakan dalam sinematografi itu suatu rangkaian beruntun dari gambar bergerak yang dalam pembuatannya memperhatikan ketajaman gambar, corak penggambarannya, memperhatikan seberapa lama gambar itu ditampilkan, iramanya dan masih banyak lagi unsur pendukung didalamnya. Semua itu menjadi kesatuan alat komunikasi non verbal. Berikut ulasan untuk karya para juara :
 
Kategori Mahasiswa:
Juara 1 Film I Love Me karya Institut Kesenian Jakarta (IKJ)
Film ini mencoba membidik apa yang terjadi dari penggunaan media sosial di kalangan generasi milenial. Film pendek bercerita tentang seorang remaja putri yang memanfaatkan media sosial yang dimilikinya untuk eksistensi pribadi. Smartphone dengan media sosial seolah menjadi kebutuhan generasi terkini kemanapun mereka pergi. Mereka selalu membutuhkan jaringan internet dan charger dimanapun mereka berada. Semua hal unik yang ditemui di jalan, mereka coba sampaikan melalui foto yang diunggah via media sosial instagram. Namun, pola kehidupan seperti itu membuat remaja ini seakan asyik dengan hidupnya sendiri tanpa peduli dengan lingkungan sekitar. Suatu ketika, ia melihat ada seorang pengamen jalan yang sedang menjalani kehidupan kerasnya di ibukota. Ia pun tersentuh dan mulai menyebarkan hal-hal bermanfaat kepada masyarakat melalui media sosial. Media sosial yang dimilikinya pun berubah fungsi dari berbagi hal-hal yang bersifat pribadi menjadi media yang menyampaikan hal-hal yang lebih manusiawi.
Film ini layak menang karena sudah memenuhi unsur continuity yang begitu lengkap untuk sebuah karya film pendek. Sebuah film harus menampilkan urutan gambar yang berkesinambungan, lancar, mengalir secara logis. Inilah aspek kontinuitas dalam sebuah film. Film yang merupakan sebuah rekaman kenyataan atau sebuah fiksi, harus memberikan kepada penonton sebuah realitas kehidupan yang nyata. Sekalipun film I Love Me tergolong fiksi, film ini mampu ditampilkan seolah-olah suatu dunia yang nyata, sebuah reproduksi kehidupan yang sesungguhnya. Aku dan penonton lain pun sempat berkata saat menonton film ini ”kok kaya kisah gue yaa! Haha”. Bisa dikatakan film sebagai suatu dunia yang pura-pura harus tetap meyakinkan. Ini semua bisa terjadi jika ada kesinambungan, ada logika yang bisa diterima oleh penonton agar terjaga dengan baik.

Juara 2 Film Different karya Universitas Bina Nusantara (BiNus)
Ada karya yang paling beda dan lolos hingga sampai tahap final. Karya film Different yang dibuat dengan jenis film animasi melalui simbol-simbol humanis tersendiri. Dalam film pendek ini, adegan diawali seorang lelaki berpakaian compang camping dan seorang wanita bergaya mentereng. Mereka pun terlibat cerita sederhana dengan bumbu asmara yang disekat atas status sosialnya masing-masing. Seorang lelaki dari kalangan apa adanya mencari perhatian terhadap seorang wanita kaya.
Jalan raya itu pun menjadi saksi bisu mereka bertemu dalam jurang pemisah yang beda. Semua diungkap sineas dengan penggunaan mobil-mobil yang lalu lalang di jalanan sebagai simbol penghalang. Walaupun batasan itu hanyalah ilusi karena setiap manusia dengan status sosial manapun berhak bahagia dan membahagiakan. Simbol kemanusiaan pun terungkap dalam cara berpikir seseorang di film ini.

Juara 3 Film Merenguk Asa di Teluk Jakarta karya Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
Film ini bercerita tentang kisah para manusia perahu yang berada di kawasan Kali Adem. Manusia ini tumbuh dan terpaksa menjalani hidupnya di atas perahu sambil mencari ikan. Mereka terlahir karena dibesarkan dalam ruang lingkup keluarga nelayan sehingga tertanam dalam benak mereka untuk tetap menjadi seorang nelayan. Penghasilan mereka tak menentu. Sementara itu, laut semakin tercemar oleh limbah dan sampah sehingga ikan pun susut. Kehidupan para manusia perahu sangat menyentuh karena tidak bisa memiliki tempat tinggal di Jakarta apalagi mendapat bantuan. Mereka terbiasa menaruh harapan hidup dengan mencari ikan di Teluk Jakarta. Meskipun mereka tidak memiliki KTP DKI Jakarta. 


Para pemenang dari kategori mahasiswa memegang mock up hadiah dari Kompas TV

Finalis dari kategori pelajar didominasi karya film dari luar daerah dan ini bisa dibilang membanggakan hasilnya. Berikut ulasan para pemenangnya.
Juara 1 Film Izinkan Saya Menikahinya karya SMA Rembang Purbalingga.
Film pendek yang bercerita tentang pasangan yang berniat menikah namun terhalang hanya karena suatu kisah. Ini memang film dengan kejadian nyata yang dikemas apik ke dalam suatu visual drama percintaan.
Salah satu dialog dalam film ini langsung menusuk sanubari penonton: “Mengapa kamu mengingkari kepercayaanku, Mas? Mengapa? Sekarang kamu sudah jadi tentara, gagah. Berani mati membela negara, tapi kenyataannya tidak berani mati membela janjimu sendiri,” kata Suryati kepada Suyono dalam suatu adegan film. Dialog yang diungkap dengan bahasa daerah, yang dikenal dengan sebutan ngapak begitu mencuri pusat perhatian penonton yang menyaksikan. Penggunaan bahasa daerah menambah penilaian film ini karena mengalir begitu alami.
Kandas kisah cinta pasangan yang merajutnya sejak bangku sekolah hingga menempuh hubungan Purbalingga-Semarang semakin membuat penonton penasaran. Status Suryati sebagai cucu dari eks tahanan politik terbukti menghancurkan pernikahan yang persiapannya telah dilakukan dengan matang. Semua prosesi sakral tersebut  tidak dapat dilanjutkan karena Suyono tidak mendapat izin menikah dari komandannya. Suyono, seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) tentu tidak bisa menikah dengan Suryati, yang keturunan seorang anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Konflik ini yang dialami Suryati, seorang perempuan yang merasakan bahwa kekasihnya tak mampu menunaikan janji untuk menikahinya. Film pendek ini ternyata diadaptasi dari kisah nyata salah satu korban peristiwa PKI tahun 1965. Sinematografi pun begitu apik dijalin sehingga menjadi runtutan pesan yang mudah dicerna.

Juara 2 Film Mata Hati Djoyokardi karya SMA Khadijah Surabaya. 
Congrats yaa, filmnya menyentuh hati. Film pendek ini bercerita tentang kisah seorang kakek tua yang bekerja serabutan dan rela mengasuh Indah, anak berusia 12 tahun yang yatim piatu dan mengalami keterbelakangan mental. Melalui film pendek ini, pesan yang disampaikan begitu kuat tentang nilai kemanusiaan yang dimunculkan bahwa untuk menolong sesama dapat dilakukan dengan kondisi ekonomi terbatas. 

Juara 3 Film Terminal karya SMK Negeri 2 Kuripan, Nusa Tenggara Barat. 
Selamat yaa, filmnya humanis abis mengajarkan adanya nilai-nilai kejujuran yang tetap dipegang seorang anak jalanan yang hidup di Terminal Mandalika. Terminal menjadi tempat yang terdiri dari beragam karakter manusia didalamnya. Ada baik, buruk, sombong, dermawan, dan semua tingkah laku manusia di dalam terminal. Awal cerita tampak seorang penumpang terburu-buru masuk ke dalam terminal tanpa melihat kondisi terminal di sekitar hingga hampir menendang sebuah makanan yang hendak dimakan seorang anak jalanan. Penumpang tersebut begitu cepat berlalu dan tas yang dibawanya pun tertinggal di sebuah tempat duduk di terminal itu. Dengan tatapan cepat, dua orang anak jalanan yang berbeda karakter melihat keberadaan tas itu. Mereka langsung berlari dan mengambil tas itu. Seorang anak jalanan berniat mengembalikan tas itu kepada pemiliknya, sementara anak jalanan lain justru mau mengambil tas itu untuknya. Hingga akhinya, niat baik selalu berhasil dan tas itu dikembalikan kepada pemiliknya. Di dalam kehidupan dunia yang keras, rasa kemanusiaan untuk menolong, kejujuran, dan saling berbagi selalu ada pada anak-anak jalanan.

Unsur-unsur film pendek seperti, kualitas cerita, editing, illustrasi musik, efek suara, dialog dan permainan pemeran yang prima sudah memperkuat nilai humanisme film-film pendek di atas secara keseluruhan. Semoga saja dengan karya-karya mereka yang telah berhasil mengungkap sisi humanisme dalam setiap kehidupan bisa membangkitkan kepedulian kita kembali akan sekitar. Besar harapan saya, industri perfilman Indonesia juga semakin berjaya dengan peran sineas muda yang kreatif melihat segala hal dalam berbagai sudut pandang dan diungkapkan secara visual.

(Tulisan ini awalnya akan diikutsertakan dalam Kompasiana Review. Hanya saja sudah melewati deadline. Akhirnya, saya tuliskan untuk posting di personal blog saya. Semoga Bermanfaat!)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar