LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Selasa, 23 Agustus 2016

Film Koala Kumal ; sebuah komedi patah hati untuk menertawakan kembali hidup Raditya Dika



Setelah sukses dengan film Single dan Marmut Merah Jambu, Raditya Dika membuat film Koala Kumal dibawah naungan rumah produksi Starvision Plus. Seperti biasa, ia bertindak sebagai penulis skenario, sutradara, hingga aktor sekaligus. Impian gue banget bisa jadi kaya gitu !.


Di Koala Kumal, Raditya Dika masih sama mengajak penonton menertawakan kehidupan pribadinya. Racikannya terhadap genre film komedi selalu memasukkan unsur keluarga dalam filmnya. Bahkan kali ini, Ia langsung mendirect keempat adiknya untuk ikut main di film ini. Tapi, yang mana yaa adiknya?!? . .  Jadi siapa sih?! Sampai sekarang aku masih belum bisa menemukannya. Hahaha . . .


Buat penggemar bukunya, tentu sudah hafal dengan benang merah disetiap karya Dika. Katanya sih ini menjadi buku terakhir yang ditulisnya. Walaupun begitu, buku dan film Raditya Dika selalu tak pernah sama. Ini yang menjadi sesuatu menarik.

Naskah diramu begitu cerdas. Dialog mengalir pintar. Plot pun tersaji dengan menarik. Setting tampil dengan santai. Semua menghasilkan cerita anti mainstream. Bagi aku, film ini terasa ringan, sehingga menikmatinya pun tak pernah membosankan. Emosi penonton masih berhasil dimainkan, walaupun dibeberapa part sisi dramatisnya kurang punya feel.


Opening scene dideskripsikan dengan adegan-adegan merekam video dengan nuansa mesra untuk mengungkap makna dari cinta. Video ini dibuat sebagai konsep undangan dihari bahagianya. Lalu, penonton mulai menyimak visualisasi kisah patah hati seorang Dika yang secara tiba-tiba ditinggal sang pacar bernama Andrea (diperankan oleh Acha Septriasa) hanya karena orang ketiga. Andrea berpaling ke lelaki yang lebih tampan yaitu James (diperankan oleh Nino Fernandez). 


 “Hmm . . . cinta pasti berakhir tragis dan ujungnya cinta itu perpisahan !”


Nah, dari kejadian itu Dika merasakan patah hati terhebat dalam hidupnya. Dika menjalani hari demi hari tanpa semangat seperti sebelumnya. Kegundahan hatinya berdampak terhadap deadline tulisan yang menjadi berantakan. Singkat cerita, si cowok patah hati itu  bertemu dengan perempuan bernama Trisna (diperankan oleh Sheryl Sheinafia). Cewek ini memiliki pengalaman sama dan merasakan patah hati terberat uga dalam hidupnya. Mereka pun berteman baik untuk saling menyembuhkan luka dihatinya masing-masing.

Trisna coba membantu Dika untuk bangkit dari kepahitan batal kawin dengan sederetan adegan tingkah-tingkah konyol. Mulai dari terlihat kuat dihadapan mantan, mengikuti biro jodoh, sampai membuat jebakan untuk menjatuhkan pasangan lawan terbilang nekat dilakukan. Semua terjadi agar mereka bisa move on katanya. Tapi, Andrea pun semakin memanasi keadaan dengan membuat konsep undangan pernikahan dengan James yang sama untuk resepsi pernikahannya kala berpacaran dengan Dika.


Putus nyambung kisah asmara Dika dan Andrea semakin seru. Banyak scene yang tak terduga dimana hal itu terjadi di kehidupan nyata Raditya Dika. Ia menampilkan bagaimana melihat patah hati dari sudut berbeda. Tak ada ungkapan galau mele atau tentang rasa sakit yang mendalam alias BaPer. Penonton akan belajar dan memandang patah hati karena ditinggalkan oleh orang yang kita sayang itu bukan akhir dari segalanya. Justru ketika kita ditinggalkan orang yang kita sayang akan membuat kita bisa menjadi pribadi lebih kuat lagi dari sebelumnya.


Secara keseluruhan, visual mampu mengungkap gambar jernih. Perpaduan angle dan shot type sudah tepat. Punch line gambar dan visual tersinkronisasi dengan baik. Layak jika film ini mampu memberi warna tersendiri dari segi sinematografi.

Jika dilihat dari segi pemeranan, Sheryl Sheinafia berusaha totalitas memerankan karakter Trisna. Secara tokoh, Sheryl mampu menempatkan diri saat Trisna harus menjadi orang yang menyebalkan, menggemaskan, atau bahkan rapuh sekalipun. Aktingnya natural binggo dengan didukung bakat yang proporsional menjadikan Ia pantas diperhitungkan sebagai aktris multi talenta. Raditya Dika pun sebagai diri sendiri mampu bermain bagus. Walaupun secara tokoh yang diperankan selalu sama dari peran-peran sebelumnya. Yang berkesan bingits bagi aku, saat Dika sedang patah hati dan disuruh Trisna menjadi gembel dihadapan Andrea itu jadi adegan tergokil.

Pemeran pendukung lain, seperti Acha Septriasa dan Nino Fernandez juga memiliki akting matang dibanding peran mereka di film lain yang sedang tayang. Beberapa pemeran lain yang dimainkan oleh aktor dan aktris papan atas seperti Cut Mini, Dwi Sasono, Ernest Prakasa, Lydia Kandou, Dede Yusuf, dan Henky Sulaiman pun berhasil menjaga konsistensi flow film agar tetap berjalan seimbang di jalur komedinya.

Lelucon hadir begitu cepat tanpa basa-basi. Jajaran cameo yang berasal dari stand up comedy atau berprofesi sebagai YouTubers juga mampu mengalirkan suasana. Walaupun ada beberapa part yang bisa saja dihilangkan dan tidak berpengaruh dalam content cerita. Misalnya, saat adegan James dan Andrea meributkan tentang flashdisk di sebuah kamar pasien. Memang ini tak begitu logis, tapi ujungnya mampu membuat penonton tertawa.


By the way, ilustrasi musik memang tidak ditonjolkan dalam film ini. Terkadang, jadi tidak mendukung unsur humor yang kurang greget. Beberapa adegan pun terasa KenTang (dibaca: Kena Tanggung). Meski demikian, tata audio berhasil tertutupi melalui original soundtrack yang dinyanyikan oleh Sheryl Sheinafia, dengan judul Kedua Kalinya dan Kutunggu Kau Putus mampu mengisi serpihan hati penonton yang pasti ejakulasi terhadap film ini.


Puncaknya, satu adegan pun mampu mencairkan seisi bioskop saat Dika harus akting seperti terkena stroke ringan setelah minum obat pelemas otot. Komika yang satu ini memang tahu betul kapan momen tepat mengocok perut penonton dan ini lucu*.

Sayangnya, setelah menonton film ini, aku tidak bisa menemukan makna dari judul Koala Kumal itu sendiri. Memang, ada adegan yang memperlihatkan saat Dika dan Andrea kembali mengulang masa indahnya berpacaran dengan pergi ke sebuah galeri dan melihat lukisan Koala Kumal, tapi saat Andrea menjelaskan makna lukisan itu, aku tak bisa menangkapnya dengan jelas. Maklum saja, aku menonton sambil sibuk update status di Path.. hha




Ok, guys . . . Yang paling aku suka di film ini itu endingnya yang gak gampang ditebak dan diluar dugaan. Finally, tentu akan ada fase dimana kita akan merasakan patah hati, tapi bukan berarti setelah patah hati kita terlarut dalam kesedihan terus-menerus, karena itu hanya akan mengganggu aktivitas kita saja. Sebuah pesan pun tersirat di akhir cerita : 
"Jodoh itu bukan ditunggu tapi dicari !. Kita boleh patah hati, tapi jangan tutup hati. Semua terjadi pasti ada alasannya dan pintu hati harus berani dibuka kembali”. #ApresiasiFilmIndonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar