LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Minggu, 24 Juli 2016

Terinspirasi Dari Kisah Nyata Rudy Habibie



Empat tahun setelah kesuksesan film Habibie & Ainun, kini MD Pictures kembali meluncurkan karya terbarunya, film Rudy Habibie yang merupakan prekuel dari kisah hidup Habibie sebelum mengenal dan menikah dengan Ainun. Film yang dikomandoi Hanung Bramantyo ini berfokus pada lika-liku perjuangan Habibie selama bersekolah di Aachen, Jerman. Ada kisah cinta dan konflik perbedaan suku serta agama untuk mengungkap siapa sosok Rudy Habibie sebelum dikenal menjadi teknokrat dan presiden Republik Indonesia Ke-3.


Film dibuka dengan masa kecil Rudy di Pare-pare, Sulawesi. Kita diperkenalkan pada Rudy kecil yang pandai dan bercita-cita membuat pesawat. Disini juga dijelaskan bahwa orangtua Rudy berasal dari dua suku yang berbeda sehingga Rudy terbiasa hidup dalam pluralisme sejak kecil. Namun sayang, Rudy terpaksa hidup berpindah-pindah lantaran banyak serangan udara pada masa perang. Tapi, pemandangan alam Sulawesi nan indah tak bisa ditonjolkan serta efek visual masih belum berhasil meyakinkan penonton saat Rudy hidup di era kemerdekaan silam. 


Lama-kelamaan penonton mulai terbius dengan suguhan adegan-adegan yang tak biasa seperti saat Rudy disunat, kenakalan masa kecilnya dengan teman-teman tentang teori balon sampai Ia menemukan sebuah kondom untuk ditiup. Hingga adegan yang paling membuat penonton terenyuh, saat Rudy harus menggantikan ayahnya (diperankan Donny Damara) menjadi imam karena meninggal dalam keadaan khusnul khotimah ketika shalat berjamaah sekeluarga sedang berlangsung.


Pesan-pesan tersirat pun mulai bermunculan di awal cerita. Salah satu yang kerap diulang yaitu tentang ambisi Rudy membuat pesawat terbang demi memenuhi pesan almarhum ayahnya untuk menjadi mata air yang bisa penonton definisikan untuk menjadi berguna bagi banyak orang. Semua akan mudah terngiang di telinga penonton.


Kemudian penonton diajak menuju masa ketika Rudy yang sudah dewasa (diperankan Reza Rahadian) baru saja tiba di Aachen untuk mengikuti tes masuk Universitas RWTH. Di sekolah ini, ia mendapatkan teman-teman baru secara tidak sengaja yang berasal dari latar belakang beragam. Ada kenalan lamanya dari ITB, Liem Keng Kie (diperankan Ernest Prakasa), seorang keturunan Tionghoa dari Bandung. Ada putri Sultan Solo, bernama Ayu (diperankan Indah Permatasari) serta abdinya, Sugeng (diperankan Bagas Luhur Pribadi). Ada juga Peter Manumasa (diperankan Pandji Pragiwaksono), yang merupakan mantan tentara pejuang kemerdekaan, serta Poltak Hasibuan (diperankan Boris Bokir), anak Medan yang ceria dengan fashion style norak alias tubrukan. Mereka semua merupakan pemegang passport biru alias penerima beasiswa pemerintah, kecuali Rudy yang dibiayai oleh ibunya (diperankan Dian Nitami).


Sosok Rudy Habibie dalam film ini digambarkan begitu jenius dan sempurna. Ketika diremehkan oleh orang dalam sekejap ia berhasil membuktikan bahwa mereka salah. Walaupun bossy, tapi Rudy tetap populer dikalangan mahasiswa Indonesia. Eksekusi terhadap karakter Rudy tidak terlalu terasa karena sejak awal ia divisualkan sebagai sosok yang merasa paling pintar dan selalu benar. Sampai akhirnya, Ia didera berbagai kesulitan pun, sang sutradara memvisualkan karakter Rudy dengan ketaatannya beribadah, terutama dalam melaksanakan shalat. 


Unsur religi memang ditampilkan dalam film ini, tapi beberapa tidak dieksekusi dengan baik. Misalnya, saat adegan makan makanan haram yang mengandung babi tanpa disengaja, Rudy Habibie tak merasa bersalah atau sekedar mengucap istighfar, Ia malah asyik bercanda kepada si penjual makanan untuk meminta kembali uang yang telah dibayarkan.


Nah, film Rudy Habibie pun bergulir menjadi seperti kisah anak SMA. Sebagai murid non-beasiswa, ia sering dibully oleh sekumpulan mahasiswa ikatan dinas alias Laskar Pelajar. Mereka meragukan kepintaran Rudy dan kerap mengejeknya. Di sisi lain, terjadi cinta segitiga dengan Ilona Ianovska (diperankan Chelsea Islan) dan Ayu, yang menyebabkan persahabatan Rudy bersitegang. Hmm, too much drama? Its reality or fictive?!


Masalah yang dihadapi Rudy di luar negeri juga semuanya seolah terkontrol. Tersisa adegan-adegan klasik yang pasti dialami seluruh mahasiswa perantauan, mulai dari kekurangan uang, kelaparan, sakit, atau ide-ide yang ditentang. Padahal justru penonton ingin melihat perubahan seorang mahasiswa muda yang perlahan-lahan berkembang menjadi tokoh negara visioner pada masa itu. Kurang greget istilahnya untuk menelaah perjuangan seorang Rudy Habibie seperti di film sebelumnya yang menghasilkan sesuatu yang besar.


Ada banyak kejadian bersejarah dalam film ini coba ditampilkan. Misalnya seperti saat Rudy menggagaskan visi misi pembuatan organisasi PPI Aachen atau saat ia memperjuangkan jalannya Seminar Pembangunan bagi seluruh mahasiswa Indonesia di Eropa. Berkali-kali Rudy harus berseteru dengan pihak pemerintah. Namun akibat fokus cerita yang bercabang, justru hal-hal penting ini tidak dijabarkan dengan detail. Ditampilkan juga masalah Irian Barat atau ketidakikutsertaan Indonesia dalam NATO yang juga membuat penonton bingung. Ditambah lagi, alibi Rudy saat ditanya oleh warga sekitar yang penasaran dengan kepandaiannya berbahasa Jerman dan dijawab dengan penuh ambiguitas yang konyol.


Plot campuran memang membuat film ini terasa complicated. Gaya penceritaan yang padat dengan tempo cepat menjadikan film ini terlihat berisi. Secara keseluruhan tim produksi telah berupaya memperhatikan detail secara proporsional. Film ini pun bisa dinikmati oleh penonton karena mereka akan dibiarkan terlarut dalam setiap pergolakan emosi yang terjadi.


Dibalik itu semua, akting Reza Rahadian kembali menyuguhkan performa terbaiknya sebagai Rudy Habibie. Dengan aksen khas dan bahasa Jerman fasih didukung olah tubuh seperti cara berjalan dan gaya berbicara sosok Rudy Habibie, Reza terlihat sangat alami sebagai anak muda di tahun 1950-an. Emosinya ketika merasakan kegagalan, serta kesedihannya saat jatuh sakit dan homesick begitu memilukan. Malu, tidak mau merepotkan orangtua, dan ingin membuktikan bahwa dia bisa berdiri sendiri merupakan suatu fase yang pasti pernah dirasakan mahasiswa mana pun yang sedang belajar nun jauh disana.


Akting teman-teman sesama mahasiswa mampu mengimbangi para pemeran utama. Ernest dan Pandji yang memiliki latar belakang sebagai stand up comedian mampu berakting serius. Tapi, saya lebih salut dengan keseriusan Pandji yang berperan natural dibanding Ernest Prakasa. Indah Permatasari sebagai Ayu juga tampil menarik bak putri keraton modern dengan logat Jawa. Hanya peran Ilona saja sebagai seorang wanita keturunan Polandia yang kurang pas dimainkan oleh Chelsea Islan. Ia tampak mengada-ada dalam setiap ucapannya.


Mixing yang diproduksi di Los Angeles, USA juga berhasil meniupkan nada-nada ke telinga penonton untuk merasakan sensasi saat menonton di gedung bioskop yang kedap suara. Original soundtrack buah karya Melly Goeslaw dan Anto Hoed yang dinyanyikan Cakra Khan dalam judul Mencari Cinta Sejati juga membuat penonton terkesima.


Bicara tentang artistik, setting dan kostum era 1940-1950an dalam film ini tampak elegan. Penampilan kaum terpelajar tampak disesuaikan pada tuntutan zamannya. Walaupun dibeberapa scene, ada period movie yang perlu ditingkatkan lagi untuk meyakinkan penonton bahwa adegan ini terjadi dibeberapa tahun silam.


Pada akhirnya, pesan moral yang ingin disampaikan dalam film ini terasa blur. Bahkan diakhir film, terselip spoiler untuk Habibie & Ainun 3 yang rencananya akan tayang tahun depan! Whhaaatttt! Saya akan semakin penasaran untuk menonton sekuel ketiga film ini.


Mungkin lewat film ini, produser, Manoj Punjabi yang juga eksis bermain dalam film ini bermaksud mengungkap sisi seorang Rudy Habibie yang lebih manusiawi dan mudah dicerna oleh semua kalangan. Saya pun merasakan jiwa nasionalisme yang begitu kuat dari dalam diri Rudy Habibie. Dengan setting Eropa yang mempertimbangkan bibit, bebet, dan bobot film ini memang cocok sebagai inspirasi segala generasi*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar