LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Minggu, 15 Mei 2016

Ada Apa Dengan Cinta 2 ; Terjebak Nostalgia Dalam Kisah Cinta Yang Seperti Itu Saja*



       Kejutan besar dari dunia perfilman Indonesia saat ini datang dari sebuah film berjudul Ada Apa Dengan Cinta 2. Jarak ratusan purnama yang dinanti oleh jutaan mata tentang kisah Cinta dan Rangga yang pernah menghias layar lebar hingga layar kaca kembali menggema. 

     Dulu, saat menonton film ini, saya masih berseragam putih biru dengan wajah nan lugu. Sekarang, saat menonton, saya juga berseragam kantor putih biru namun sudah mampu menyimak adegan demi adegan yang penuh haru dengan nuansa rindu.  
     
     Memang, seiring berkurang usia kita, keingintahuan akan kelanjutan kisah ini semakin memuncak. Hal ini menimbulkan demam atau kepo akut yang diderita generasi 80-90an. Imajinasi pun menembus batas karena setelah menonton film ini banyak yang BaPer katanya..

     Hadirnya sekuel AADC melepas dahaga geliat perfilman Indonesia yang penuh gejolak fantasi jutaan mata. Sampai akhirnya, aku pun memutuskan untuk melihat kembali bagaimana kisah Rangga dan Cinta dalam konteks kekinian.

     Perjalanan sehari semalam antara Cinta dan Rangga menyusuri kota Yogya penuh dengan narasi dan dialog yang menjadi inti kisah asmara mereka selama ini. But, its moment travelling distraction because adegan yang mereka lalui itu tak menyiratkan ekspresi lelah atau sekedar mengantuk dikala malam sudah mulai larut.

      Kecewa pun berlanjut karena beberapa hal tak sesuai dengan harapan. 

      Kisah Cinta dan Rangga memang penuh kenangan terindah. Euforia rasa sejak masa SMA hingga dewasa memberikan ruang untuk kita bertanya Ada Apa Dengan Cinta?. Cinta dan Rangga pun masih  hadir sebagai ikon pasangan remaja yang ideal namun penuh sensasional. Cerita asmara terasa mengalir antara keduanya. CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) a.k.a. CLBK (Cinta Lama Belum Kelar) terasa jelas menghiasi setiap adegan.


     Tak ada lagi problematika masa SMA yang penuh persoalan. Film AADC 2 berusaha masuk ke dalam dengan membuat suatu pilihan antara berkutat di masa lalu dengan penuh rasa galau atau melangkah ke apa yang disebut kehidupan mapan agar bisa dibilang move on. Nostalgia ini diangkat dengan cara yang berbeda. Mencari cara mengungkap sebuah reuni dikehidupan nyata, ketika kisah hidup seseorang yang sudah lama tak berjumpa akhirnya terungkap hanya dengan menyimaknya berbicara.
      Sastra ala puisi yang menjadi trademark dalam film ini juga masih tersaji secara mumpuni. Setiap puisi yang dilantukan melalui narasi dalam film AADC 2 mencerminkan suara hati Rangga. Tapi, sajak terlontar berlalu begitu cepat tanpa suatu rasa. Sepertinya pilihan diksi terbatas pada bahasa pujangga bukan bahasa sastra. Hanya tersisa untaian kata-kata yang menyiratkan suasana dengan majas hiperbolanya. Para penonton pun akan segera mengetahui bahwa si penyair memposisikan diri sebagai Rangga. 'its only quiet scenes reimagine the ordinary'

      Tak ada hal yg membekas sebagai gimmick. Nyaris semua dialog pun tak bisa dijadikan 'quote' trending topic yang mudah diulang dalam bahasa gaul sehari-hari seperti dari sekuel pertamanya. Amunisi film ini terasa hilang begitu saja.

      Bagi aku, cerita ditulis terlalu sempurna tanpa tanda tanya yang membuat penonton bangga. Materi cerita terlihat samar dibeberapa waktu dan terkesan berputar pada hal-hal itu saja. Konflik tak terbangun dengan alur dramaturgi karena film hanya berisi kata-kata Rangga yang mencurahkan isi hatinya.  

       Point of view datang dari seorang Rangga yang pandai bercerita. 'Its too much back and forth narration'. Skenario didominasi oleh Rangga dengan ungkapan segala alibi didalamnya. Sepucuk surat saat perpisahan dan foto saat pacaran pun hanya menjadi memorabilia untuk bercerita. Tidak ada flashback scene yang bisa mendramatisir suasana.
       Memang film ini memiliki kesamaan seperti film terdahulu dengan tutur bercerita yang mampu membolak-balikkan emosi penonton, tetapi minimnya konflik justru menimbulkan kisah cinta klasik seperti pangeran dan permaisuri yang akhirnya hidup bahagia. Sang sutradara tampak hanya mengolah kedewasaan para pemeran didalamnya bukan masalah dengan Cinta karena Cinta masih hadir dengan jiwa labil seperti dahulu kala.

       Perkembangan psikologis para karakter pun coba diolah. Spotlight pemeranan ditampilkan apa adanya karena penampilan mereka masih sama seperti masa remaja. Hanya Milly yang tampak berbadan dua karena sedang mengandung anaknya. Setiap celotehan Milly juga berhasil mengundang gelak tawa para penonton, namun ada 1 adegan saat Milly ditanya mengenai nama anaknya, ia menjawab tanpa berpikir lama seperti biasanya. Di film yang kedua ini, karakter Maura juga tidak terlalu kuat. Bisa dibilang, Ia kurang menggoda hanya sebagai pemanis belaka. Lebih baik karakter Maura yang dihilangkan dibanding Alya. Untuk Karmen, memang penampilannya membuat saya terkesima. Beberapa cerita tentang kerasnya kehidupan yang dia alami coba ditampilkan tetapi kesukaan terhadap olahraga basket tak tampak lagi dalam film kali ini karena ia lebih memilih yoga untuk relaksasi diri.

      Walaupun demikian, para pemeran AADC 2 memiliki emosi yang kuat, tidak bisa dibuat-buat karena chemistry yang ditampilkan tepat. Dari itu semua, aku memang paling suka dengan pola komunikasi kelompok dalam genk ini yang paling Juara. Tapi, genk Cinta kurang menyatu karena tak ada hal-hal senada seperti dahulu yang diolah sang sutradara. Hanya perbedaan karakter yang tersisa dan satu lagu kenangan yang mereka coba ingat tentang masa lalu berjudul Kesepian Kita by. Pas Band.

      Dari semua elemen dibalik layarnya, Aku pun terjebak nostalgia. Aku memang suka dengan musiknya. Seniman dibalik alunan nada ini tak pernah ragu dalam berkarya. Melly Guslaw berhasil memasuki jiwa dalam setiap adegan bahkan untuk setiap ilustrasi musik diberbagai film yang digarapnya. Tata artistik pun mampu eksplorasi terhadap kota Yogya dengan menampilkan beberapa spot berbeda yang memiliki keunikan tersendiri didalamnya. Penata kamera juga berhasil menyajikan sesuatu yang tidak biasa. Penempatan sponsor pun sudah tepat, hanya ada beberapa part yang terlalu cepat. Padahal, penonton sudah jeli untuk melihat keberadaan produk-produk sponsor yang memang ditampilkan dalam film ini jika pas pada porsinya.

       Ada usaha untuk membuat film lebih fresh, tapi tetap saja menurutku tak bisa terulang daya magis versi orisinilnya. Management konflik tentang cinta terasa rekonsiliasi yang seperti itu saja setelah sekian lama. Gesekan perasaan benci tapi rindu yang menggoda hadir untuk menjebak penonton dalam nuansa nostalgia. Kesan yang dihasilkan setelah menonton film ini pun hanya berputar pada dua karakter utama yang ujung ceritanya sudah bisa ditebak.
      Sampai akhirnya, ekspetasi aku pun mulai tinggi karena ku pikir film ini akan penuh konflik dewasa yang lebih beda dari film pertama. Nyatanya, sinkronisasi antara gambar dan suara ada yang tak tersunting dengan lancar dibeberapa part. Adegan klise semakin terperangkap saat Rangga memutuskan untuk menemui ibunya dengan motivasi seperti itu saja yang tak lagi digenangi air racun jingga. Meskinya, adegan ini memiliki potensi kekuatan emosional yang tak kalah dari aspek romantis seorang pemuda yag memiliki dinding hati terkesan kelam dan kedinginan. Hingga akhirnya, ending juga masih saja dibuat ambigu agar penonton menentukan sendiri jawabnya. Kurang menggigit istilahnya, mungkin karena film ini menganut paham art cinema narration.
       Andai saja, kisah cinta mereka dibuat bad ending, pasti film AADC 2 akan terasa semakin beda dan sempurna. Sudah terlalu klise jika semua kisah asmara dalam film bak legenda dari negeri dongeng yang selalu happy ending. Sama saja aku menonton kisah cinta di serial FTV, sinetron, atau telenovela.
       Dan penyampaian pesan di last scene tampak jelas memberikan kode bagi pihak televisi jika ada yang berminat membuat versi serial kembali. Bisa juga diidentifikasi untuk pembuatan web series demi keuntungan para pekerja film yang berlipat ganda atau memang sengaja diberi ruang agar film AADC 3 bisa kembali diproduksi. Kita lihat saja nanti, sampai purnama ke berapa kisah ini akan berakhir . . ,

Tapi, aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk menonton Film AADC 3
Bukan untuk nostalgia, bukan untuk bermuram durja . . .
Tapi, untuk menikmatinya  ...
Karena aku cinta film Indonesia . . .
Itu saja*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar