LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Minggu, 15 Juni 2014

Ketika Konotasi Pencitraan di Media Sosial Hanya Sebatas Eksistensi Bukan Sosialisasi

        Dewasa ini, arus informasi bisa dibilang mengalir kian deras. Aliran informasi mengalir dari satu sumber ke penerima dan kemudian mengalir lagi ke penerima berikutnya. Begitu seterusnya. Keadaan seperti ini memang tak bisa dihindari. Bisa dibilang hal ini adalah salah satu konsekuensi dari kemajuan teknologi komunikasi dan informasi di era globalisasi.
     Beberapa new media dengan teknologi canggih bermunculan dengan menawarkan segala informasi yang ada. Sebut saja, media sosial seperti internet yang telah dilengkapi search engine, jejaring sosial, blog, dan sebagainya. Informasi yang dapat kita peroleh dari media sosial tersebut tidak dipungkiri sangat berguna bagi kehidupan karena nilai informasi yang dihadirkan tergolong aktual.
        Kemampuan media sosial menjadi medium pembenaran informasi mendekati kaidah ilmiah yang telah terjawab melalui sifatnya yang terkadang absurd, maya, dan juga penuh kepalsuan. Media sosial bisa menjadi kamuflase semata karena mampu menawarkan berbagai macam informasi yang tak terbatas jarak dan waktu. Masyarakat maya dapat memperoleh berbagai informasi dari negara atau benua yang berbeda. Hal ini tentu saja menjadi daya tarik tersendiri dari media sosial yang dimanfaatkan sebagai wahana pencitraan.
        Jika mengkaji lebih dalam, pengaruh media sosial terhadap penggunanya tidak hanya pada hal positif, tetapi juga memiliki dampak negatif atas konstruksi pencitraan yang bisa dibentuk. Sadar atau tidak sadar, hal ini sudah menjadi fenomena dalam masyarakat maya. Sebagai contoh, gencarnya pemberitaan tentang pencitraan figur para capres dan cawapres yang akan dipilih pada Pemilu 9 Juli 2014 nanti menjadi ramai dibicarakan. Pencitraan melalui informasi, foto, visi dan misi masing-masing kandidat telah disajikan dengan menarik dan persuasif. Tidak hanya untuk kepentingan saat ini, para elite politik pun menggunakan fenomena tersebut untuk kebutuhan reputasi yang akan datang. Strategi komunikasi politik mereka terlihat begitu cemerlang sehingga mampu menghipnotis publik yang terkadang tidak mengetahui ada indikasi pesan yang bersifat settingan semata.
       Beberapa pencitraan pun dihadirkan dalam nuansa provokasi. Dimana ada kelompok tertentu yang ingin menjatuhkan citra dari suatu tokoh atau kelompok dengan black campaign. Media sosial yang menyajikannya seolah berusaha mempengaruhi opini publik. Fenomena ini akan membuktikan munculnya umpan balik dalam suatu proses komunikasi yang bisa menjadi bahan masukan. Tak aneh memang jika fenomena pencitraan di media sosial yang ada tampak begitu absurd. Indikasinya, kebanyakan dari kita melihat kepribadian manusia hanya dari kemasannya sehingga segala informasi yang ada terlihat abstrak. Fenomena pencitraan di media sosial pun hanya menjadi “kendaraan kemunafikan diri”. Maksudnya, kekuatan nilai berita, foto, visi dan misi yang ditampilkan seseorang dalam media sosial tersebut kadang kala tidak diimbangi dengan esensial jiwa akan kejujuran konten pesan yang seharusnya disampaikan ke publik secara natural. Dapat dikatakan, media sosial hanya digunakan sebagai hegemoni dalam meraih tujuan praktis.
          Kita harus lebih pintar mencari fakta tidak hanya dari satu sisi saja. Jika kita melihat hanya dari satu sisi, maka yang akan kita dapatkan hanyalah nilai informasi yang mengungkap sensasi. Sudah seharusnya, kita mulai menggunakan konsep pemikiran bahwa apa yang terungkap adalah apa yang ada padanya. Totalitas diri-lah yang harusnya diungkap, ada kejujuran yang dalam dan tulus, serta mengalir dari diri yang paling dalam untuk pencitraan yang elegan. Inilah sebuah pencitraan yang bisa diterima agar tidak terjadi  “pembunuhan karakter”.
       Seharusnya media sosial juga sebagai pembawa pesan atau informasi harus tetap bersifat “netral”. Artinya, media sosial dapat mempublikasikan informasi yang ada dalam ruang lingkup nilai positif dan negatif. Semua itu dapat dilakukan oleh kita sebagai pengguna media sosial. 
       
Kita kaji lebih lanjut informasi yang tersaji dengan berperan kritis dalam mencerna informasi yang ada. Hal tersebut dilakukan agar kita tidak mudah terpengaruh dan terlalu cepat bereaksi atas efek pencitraan dari informasi tersebut. Walaupun itu sulit, tapi harus kita coba sehingga kita sebagai pengguna media sosial mampu bijak dalam memberikan, membaca, atau menanggapi situasi informasi supaya tersaji secara ideal. Mari, kita ubah konotasi pencitraan di media sosial yang hanya sebatas eksistensi belaka menjadi ajang sosialisasi yang membumi.


*Opini ini dibuat dalam Forum ke-6 untuk Mata Kuliah New Media & Society Format E-Learning Universitas Mercu Buana Program Kelas Karyawan Fakultas Komunikasi Jurusan Penyiaran.

1 komentar:

  1. Semua berita yang ada di website anda sangat menarik perhatian untuk di simak, salam sehat. . . !! Semoga beritanya dapat bermanfaat! share ya gan, thanks nih!!

    BalasHapus